Konservasionis
nyengir aja duluuuu….baru mikir

Nanjing Steel tanam US$1 miliar

Bisnis Indonesia, 28/08/2009

Depperin fasilitasi kerja sama dengan pemasok bijih besi

JAKARTA: Nanjing Iron and Steel Company Ltd, produsen baja asal
China, segera merealisasikan investasi di sektor hulu baja dengan
membangun pabrik pengolahan bijih besi (iron making) yang perkiraan
investasinya US$1 miliar.

Jika investasi tersebut terealisasi, Nanjing merupakan perusahaan
China kedua yang berinvestasi dengan nilai sangat besar di industri
hulu baja nasional.

Sebelumnya, China Nickel Resources Holdings Co melalui PT Mandan
Steel lebih dahulu merealisasikan investasi iron making di Kalimantan
Selatan dengan kucuran dana tahap awal sebesar US$220 juta.

Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam Mesin
Tekstil dan Aneka (ILMTA) Departemen Perindustrian I Putu
Suryawirawan mengatakan Nanjing juga akan menjajaki pembangunan
fasilitas produksi baja hulu di Kalsel mengingat potensi bahan baku
bijih besi di kawasan tersebut sangat melimpah.

“Pemerintah sedang memfasilitasi rencana investasi Nanjing dalam
penjajakan pembangunan fasilitas produksi iron making di sana
[Kalsel]. Lokasi persisnya masih dijajaki,” kata Putu kemarin.

Dengan proyeksi investasi sebesar itu, Nanjing akan membangun pabrik
pengolahan bijih besi berkapasitas hingga 1 juta ton per tahun.

Pemerintah, kata Putu, juga memfasilitasi pencarian sumber pasokan
bijih besi lewat kemitraan dengan para pemegang kuasa pertambangan
(KP) di Kalsel.

Dalam jangka panjang, perusahaan itu juga akan menjajaki pembangunan
pabrik pengolahan baja di beberapa daerah lain di antaranya Bangka
Belitung, Bengkulu, Banten, Tangerang dan Sukabumi.

Direktur Jenderal ILMTA Depperin Ansari Bukhari mengatakan pada tahap
awal perusahaan ini akan membangun pabrik berkapasitas 1 juta ton.
Selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 2 juta ton.

“Kurang lebih isi proposalnya sama dengan yang pernah diajukan Nickel
[China Nickel Resources, perusahaan baja China],” kata Ansari.

Diminati asing

Kendati terhantam krisis ekonomi global, lanjut Ansari, sektor baja
nasional tetap menjadi incaran investasi asing seiring dengan
peningkatan permintaan baja di pasar global pascakrisis global.

Berdasarkan data Depperin, perusahaan-perusaha an China yang telah
eksis di sejumlah daerah pada tahun lalu terus agresif melakukan ekspansi.

PT Sinar Nusantara Mitra Selaras, penanaman modal asing (PMA) dari
China, berencana menambah kapasitas produksi 600.000 ton pelet bijih
besi dengan nilai investasi US$600.000.

Selain itu, PT Hoi Cheon Indonesia, produsen serbuk bijih besi juga
akan menambah kapasitas pabrik di Bangka Belitung sebesar 180.000 ton
dengan investasi senilai US$500.000.

Menurut rencana, perusahaan yang telah mengantongi izin pada 3 Mei
2005 ini akan mulai berproduksi pada tahun depan.

Selain itu, PT Mag Indonesia Citra, produsen pelet bijih besi akan
menambah kapasitas 150.000 ton dengan total investasi US$4 juta di
Cilegon, Banten.

Sementara itu, PT Fine Wealthy Indonesia (produsen pasir besi) dan PT
Vacation International Indonesia, masing-masing akan menambah
kapasitas produksi pasir besi dan pelet dengan total investasi
US$2,585 juta di Seluma, Bengkulu dan Sukabumi, Jawa Barat.

Baru-baru ini, Pohang Iron and Steel Company (Posco), produsen baja
terbesar di dunia, menjajaki pembangunan pabrik baru berbasis pelat
lembaran (HRP/hot-rolled- plate) bersama PT Krakatau Steel (Persero)
di Cilegon, Banten. Total investasi diperkirakan mencapai US$2,5 miliar.

Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Associations (IISIA)
Fazwar Bujang menerangkan konsumsi baja di dalam negeri pada tahun
ini diprediksi merosot 20% dibandingkan dengan konsumsi pada 2008,
dari sekitar 7,5 juta ton menjadi hanya 6 juta ton seiring dengan
penurunan daya beli di pasar domestik.

Pada tahun ini, lanjutnya, industri baja dunia dan di dalam negeri
masih mengalami fase guncangan (shake out) yang ditandai oleh
jatuhnya permintaan dan kerugian yang sangat besar.

Pada 2011, lanjutnya, industri baja dihadapkan pada keyakinan baru
yang ditandai oleh tersedianya likuiditas kredit, perbaikan kinerja
bursa saham yang berpotensi mendongkrak belanja konsumen naik secara
signifikan.

“Momentum investasi yang paling tepat sebenarnya dilakukan pada saat
demand masih merosot seperti sekarang ini, sehingga pada saat
permintaan pulih, industri baja nasional bisa langsung merespons
kebutuhan,” kata Fazwar. (Chamdan Purwoko) (
<mailto:yusuf.waluyo@ bisnis.co. id>yusuf.waluyo@ bisnis.co. idThis
e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript
enabled to view it )

Oleh Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia

Belum Ada Tanggapan to “Nanjing Steel tanam US$1 miliar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: