Konservasionis
nyengir aja duluuuu….baru mikir

Ketika Batubara Tak hanya Hasilkan Uang

Oleh: Firmansyah*
Hampir empat bulan belakangan ini Propinsi Bengkulu dipusingkan oleh rusaknya jalan umum, baik itu jalan negara, jalan propinsi, hingga jalan kabupaten/kota, oleh angkutan batubara yang beroperasi di negeri yang terkenal dengan bumi Rafflesia ini. Kondisi ini memicu konflik horizontal (antara masyarakat dengan masyarakat), maupun konflik vertikan (pemerintah, perusahaan tambang, dan masyarakat).
Pada tahap awal, kerusakan jalan akibat angkutan tambang direspons dingin oleh masyarakat, namun seiring dengan semakin berdatangannya dampak ikutan dari kerusakan jalan maka, semakin resahlah masyarakat. Dampak awalnya, berupa semakin tingginya angka kecelakaan akibat menghindari jalan berlubang. Sayangnya, hingga saat ini belum ada satu pun lembaga yang bisa menghitung berapa jumlah kecelakaan di jalan raya per harinya akibat rusaknya jalan.
Dampak ikutan berikutnya adalah tingginya korban penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dari data yang dikumpulkan oleh harian lokal, Rakyat Bengkulu, Selama empat bulan terakhir saja, sudah 851 warga Bengkulu terserang penyakit ISPA. Rinciannya, bulan Maret 192 orang. Bulan April meningkat menjadi 200 orang. Bulan Mei bertambah sebanyak 232 orang.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Pulau Baai melalui tenaga observasi M. Nasir, S.Kom mengatakan, tingkat polusi semakin tinggi di daerah yang jalannya rusak. “Bisa jadi tingkat polusi udara di jalur Truk batubara tingkat polusi udaranya tinggi. Karena sekali lewat debu akan berterbangan kemana-mana. Kalau angin mengarah ke stasiun kita ” terang Nasir.

Pada bulan Juli rata-rata kadar polusi udara meningkat menjadi 67,92 mikrogram/M3/24 jam dari bulan Juni 60,10 Mikrogram/ M3/24 jam. Dari segi kesehatan ini tidak menggangu. “Secara global udara memang masih layak konsumsi, tetapi di suatu wilayah yang jalannya rusak dan berdebu tingkat polusi akan semakin tinggi,” terang Nasir.(www:harianrakyatbengkulu.com)
Selanjutnya menyusul lagi jeritan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), ini perusahaan daerah yang paling menderita. Perusahaan ini mengklaim hasil penelitian yang mereka lakukan bersama Dinas Energi Sumberdaya Mineral (ESDM) propinsi, bahwa positif kadar besi dan mangan di intake melebihi ambang batas Artinya air di intake PDAM tersebut positif tercemar logam berat. PDAM harus mengolah air melalui penyulingan, sebelum di distribusikan ke masyarakat. Dapat dipastikan ribuan warga Kota Bengkulu konsumen PDAM teracuni oleh logam berat. Anehnya, Badan Lingkungan Hidup (BLH) propinsi mengatakan air PDAM masih diambang batas.(www:walhibengkulu.blogspot.com/www.harianrakyatbengkulu.com)
Sudah jatuh tertimpa tangga pula, setelah jualannya dicemari, kembali pipa besar milik PDAM seharga Rp 39 juta hancur digilas truk-truk batubara yang diperkirakan melebihi batas tonase standar jalan di Propinsi Bengkulu.
Dari data Walhi Bengkulu, kabupaten Bengkulu Utara merupakan salah satu penghasil batubara paling produktif di Propinsi Bengkulu, setidaknya ada 12 perusahaan besar pemegang Kuasa Pertambangan (KP) di kabupaten ini. Serta beberapa perusahaan di Kabupaten seluma. Dengan rata-rata masa berlaku diatas 25 tahun.
Berkisar dua bulan yang lalu mencuat khabar bahwa pajak dari Kuasa Pertambangan (KP) di Propinsi Bengkulu hanya menyumbang PAD sebesar Rp 500 juta per tahun, dengan pembagian royalti sebesar Rp 1.5 miliar per tahun. Hasil beberapa wawancara informal kami dengan beberapa petinggi pertambangan di Bengkulu, dikatakan, bahwa mereka justru tergencet oleh mekanisme yang diterapkan oleh pemerintah. Mereka membantah jika sumbangan mereka kepada PAD hanya Rp 500 juta. ‘’Kami banyak menyumbang untuk PAD lebih dari Rp 500 juta per tahun, kami merasa tergencet dengan pemerintah, bayangkan dalam satu bulan kami harus menyetorkan uang Cuma-Cuma (diluar pajak formal) sebesar Rp 100 juta kepada petinggi di propinsi ini, jadi mengenai jalan rusak, kami telah bayar pajak tinggi mas. Anda bisa lihat sekarang kondisi kami juga mengenaskan, kontrakan saja sudah pindah ke kontrakan tak layak huni,” terang salah seorang petinggi pemegang KP di Propinsi Bengkulu, yang sengaja inisialnya kami sembunyikan.
Selanjutnya, para pemegang KP juga mengancam akan hengkang dari Propinsi Bengkulu jika iklim investasi di propinsi ini tidak segera diperbaiki lebih jujur.
Dampak ikutan berikutnya datang dari keluhan nelayan di Pesisir Pantai Pasar Bengkulu, yang mengeluhkan banyaknya limbah batubara menutupi terumbu karang. Kondisi ini ditakutkan akan berkurangnya ikan di masa depan, karena terumbu karang merupakan tempat ikan-ikan bersarang dan bertelur. Sekedar info, air Sungai Bengkulu hulunya terletak di Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah, di hulu sungai ini terdapat satu pertambangan besar batubara. Di hulu sungai dilakukan pencucian batuara ke sugai, sehingga banyak sisa batubara yang mengalir ke laut.
Rakyat Mulai Beringas
Kondisi terkini, dengan semakin parahnya jalan di Propinsi Bengkulu masyarakat mulai melakukan tindakan, mereka mulai memblokir jalan-jalan yang biasa dilalui truk-truk pengangkut batubara, dengan cara membakar ban-ban bekas. Parahnya lagi kondisi ini diperkeruh dengan saling lemparnya tanggungjawab antara Walikota Bengkulu dan Gubernur Bengkulu terhadap perbaikan jalan. Dari beberapa pengamatan, jalan-jalan di Propinsi bengkulu memang telah lama tidak terawat. entah kemana menguapnya uang-uang perawatan jalan tersebut. Jika tidak segera diantisipasi dengan baik tidak menutup kemungkinan ‘chaos’ akan terjadi.
Indikasi ‘chaos’ ini dapat dilihat dengan maraknya pula aksi demonstrasi para buruh sopir truk angkutan batubara ke kantor Gubernur Bengkulu. Mereka beramai-ramai membawa truk-truk angkutan menemui gubernur meminta kejelasan rute angkut. Sebab, mereka dilarang masuk ke jalan Kota Bengkulu menuju Pelabuhan Pulau Baai. Truk-truk tersebut dialihkan ke jalan lain yakni ke Desa Kembang Seri Kecamatan Talang empat, Kabupaten Bengkulu Tengah (pemekaran dari kabupaten Bengkulu Utara) menuju pelabuhan Pulau Baai. Sialnya, memasuki Desa Kemabang Seri mereka juga dilarang lewat oleh warga setempat dengan alasan jembatan di Desa Kembang Seri tidak mampu menahan bobot truk lebih dari 20 ton.
Koreksi AMDAL
Ini merupakan masalah serius sebagai alat koreksi dan evaluasi bagi para pemegang kebijakan, berkali-kali lembaga-lembaga independent dan NGO meneriakkan untuk meneliti Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dengan cermat sebelum dikeluarkan. Jika tidak mau kondisi seperti ini baterjadi. Bisa dipastikan ini merupakan hasil dari pembuatan AMDAL yang ‘ngawur’ Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) beberapa waktu lalu menemukan bahwa lebih dari 70 persen dokumen AMDAL di negeri ini dibuat dengan cara asal-asalan tanpa melibatkan warga setempat.
Tidak saja masalah AMDAL, tapi keraifan dan kejujuran pemimpin terhadap rakyat jugalah penting, bukan pemimpin yang sibuk dengan mencari rezeki untuk kantong pribadinya saja. Ingat, pemilik dan pemegang KP juga banyak dari pejabat tinggi dan mantan pejabat, baik nasional maupun lokal.
Penulis: Ketua Departemen Kampanye Walhi Bengkulu

Belum Ada Tanggapan to “Ketika Batubara Tak hanya Hasilkan Uang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: